Senin, 15 Juli 2013
SYUTING (1)
"Kamu yang apa-apaan Romi! Tega ya kamu selingkuh di belakangku! Emang apa salahku? Jawab, Romi!" balas Juliet tak kalah sengitnya. Bibirnya terlihat gemetar menahan emosi. Matanya mulai berkaca-kaca.
CURHAT PSIKIATER
"Saya
mempunyai masalah, Dok. Setiap menjalin hubungan dengan wanita, selalu
saja berakhir kecewa. Apa yang salah dengan diri saya ya, Dok?" tanya
seorang pria pada psikiaternya.
"Ah, itu masih kondisi yang normal. Mungkin belum jodoh." jawab sang psikiater.
"Tapi, Dok.. Saya sudah mengalaminya sebanyak lima kali!" lanjut si pria.
"Itu belum seberapa. Saya sendiri sudah sembilan kali pacaran, bahkan
tiga kali perkawinan saya semuanya gagal.." terang sang psikiater.
"Tapi, Dok.. Hal itu menjadikan saya trauma dan tidak berani untuk memulai hubungan lagi.." ujar si pria lagi.
"Itu juga belum seberapa. Saya juga mengalami trauma, bahkan tidak lagi mempunyai ketertarikan terhadap lawan jenis."
"Maksud Dokter?"
"Berarti sekarang Anda single kan? Saya juga demikian."
"Lalu?"
"Anda tentu paham maksud saya.."
"Saya permisi dulu, Dok. Terima kasih atas waktunya. Selamat malam."
Minggu, 14 Juli 2013
Prompt #20 : PENGAKUAN OM JOKO
Wajahnya
terlihat bingung. Tanpa sadar jemari tangannya sibuk memainkan sedotan dari
gelas minuman yang ada di hadapannya. Setelah
jeda yang begitu lama, lelaki itu menghabiskan isi gelasnya dengan sekali
tegukan. Lalu dengan segenap
keberaniannya, Ia memaksakan diri untuk berterus terang pada gadis yang sedang berada
di sampingnya itu.
"Putri, ada sesuatu yang ingin Om bicarakan padamu. Sesuatu
yang sangat penting.." jelasnya.
"Aku siap mendengarkan, Om." sahut Putri, si gadis
tersebut. Ia bersama Joko-lelaki yang dipanggil 'Om' itu-sedang beristirahat
sebentar di sebuah kedai dalam perjalanannya menuju suatu tempat di daerah
perkotaan. Tidak biasanya Joko yang sudah seperti pamannya sendiri itu
mengajaknya bepergian jauh seperti ini.
Joko semakin gelisah. Berkali-kali Ia menghirup napas
panjang. Dikuatkan hatinya sekali lagi untuk memberanikan diri mengatakan
sesuatu yang mungkin akan membuat Putri terguncang ketika mendengarnya, sama seperti
yang Ia rasakan ketika mendengar perintah Hera padanya untuk membunuh Putri
karena perempuan itu merasa iri dengan kecantikan anak tirinya itu.
Sanggupkah Joko mengatakan bahwa sebenarnya Hera sangat
menginginkan kematiannya? Waktu Joko semakin sempit. Kaki tangan Hera itu sudah
terlalu banyak mengulur waktu dan hal itu tentu akan membuat Hera semakin
murka.
"Putri, sadarkah kalau kau begitu cantik? Dan hal itu
bisa menjadi bumerang bagimu, karena ada seseorang yang merasa sangat iri
padamu." lanjut Joko.
"Mama, maksud Om?”
“Bagaimana kau bisa tahu?”
“Aku tahu semuanya. Dan aku juga tahu bahwa Om diperintah
Mama untuk membunuhku.”
“Lalu? Bagaimana sikapmu?” Joko merasa heran karena gadis itu
sepertinya tak peduli dengan hal itu.
“Karena aku lebih pintar. Om akan mati terlebih dahulu
sebelum bisa membunuhku. Setelah itu baru akan kuurus perempuan itu!”
“Putri, apa..apa maksudmu, Nak?”
“Minuman yang Om minum barusan. Aku sudah memasukkan racun ke
dalam gelasnya.”
(Terinspirasi dari Dongeng
Putri Salju)
Senin, 08 Juli 2013
BATAL MUDIK, KETEMU JODOH
Ramadhan tahun ini bagi Raka tak akan seperti tahun-tahun sebelumnya. Tak ada lagi yang akan menyiapkannya makan sahur, menemaninya berbuka puasa ataupun shalat tarawih bersama. Padahal dia sudah membayangkan akan melewati lagi bulan suci itu bersama Nia, mantan kekasihnya. Bahkan rencananya gadis itu hendak Ia perkenalkan sebagai calon istrinya kepada orangtuanya di Kuningan saat lebaran nanti.
“Lo jadi mau munggahan* di Kuningan, Ka? Apa gak tanggung nunggu sampe libur lebaran aja ke sananya?” tanya Firman membuyarkan lamunan Raka. Firman adalah tetangga kontrakan sekaligus teman kerjanya.
“Ya jadi lah.. Hari Jumat besok gue berangkat. Barusan gue udah ngajuin form cuti gue ke HRD. Udah, Lo gak usah sedih gitu ah. Gue cuti cuma 3 hari kok.. Rabu depan gue udah balik ke sini lagi.” sahut Raka.
“Ah, sialan Lo.. Siapa juga yang sedih? Justru gue malah senang gak perlu bangunin Lo buat sahur. Secara bangunin Lo tidur itu susahnya kayak mau nyembelih banteng! Wa ha ha ha..” canda Firman.
“Lebayyyyy!” balas Raka sambil berlalu meninggalkan Firman.yang masih sibuk menghabiskan makan siangnya di kantin pabrik.
"Gue yang sedih, Man. Sebenarnya bukan apa-apa. Gue lagi sumpek aja di sini. Tiap hari kebayang Nia terus. Rasanya kayak mimpi putus sama dia. Padahal baru kemarin gue nonton bareng dia. Sekarang mungkin dia lagi asyik nonton sama si Brengsek itu!" batin Raka.
*****
"Biasanya penuh terus lho, Neng. Abis lebaran baru ada lagi yang kosong. Soalnya kadang ada yang mudik, terus pulangnya gak balik lagi ke sini." terang Haji Salim, sang pemilik kontrakan.
"Oh gitu ya, Pak. Beruntung dong saya.." sahut Irma, yang baru saja tiba dari kampungnya di Cianjur.
"Kamunya juga kok pindahannya nanggung gini. Kenapa gak abis lebaran aja?" tanya Haji Salim penasaran.
"Oh, ehm.. Ituu.. Ya, kebetulan aja dapat panggilan kerjanya sekarang, Pak.." jawab Irma setengah gugup.
"Maaf nih, Pak.. Saya tinggal beres-beres dulu ya.." ujarnya lagi, sambil membongkar isi koper dan tas punggung yang dibawanya.
"Eh, iya, iya Neng. Silahkan. Aduh, maaf ya malah diajak ngobrol gini.. He he. Ya udah, nanti kalo ada apa-apa, bilang aja sama Bapak ya. Gak usah sungkan." pesan Haji Salim.
"Sebenarnya saya cuma cari tempat pelarian aja di sini, Pak. Daripada stres mikirin pertunangan yang gagal, lebih baik lanjutkan hidup dengan mencari aktivitas baru, di tempat yang baru. Siapa tahu hidup saya bisa lebih baik di sini, termasuk jodoh saya.." batin Irma.
*****
"Gagal mudik, Cuy. Pengajuan cuti gue ditolak. Perusahaan lagi sibuk-sibuknya nyiapin stok sebelum lebaran." keluh Raka setelah pulang dari pabrik.
"Gue tahu sebenarnya niat Lo mudik cuma buat pelarian aja, bukan buat silahturahmi. Iya kan? Makanya gak dikasih jalan deh. He he. Move on*, dong Bro. Move on*! Kayak di dunia cuma ada Nia aja.."
"Sok tau Lo! Udah ah, jangan bahas soal itu lagi. Ngomong-ngomong, nih kontrakan sebelah kayaknya udah ada yang ngisi ya? Kok terang dan rapi banget?" Raka berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Kata Haji Salim sih gitu. Tadi siang dia pindahannya."
"Hemm..."
“Lo jadi mau munggahan* di Kuningan, Ka? Apa gak tanggung nunggu sampe libur lebaran aja ke sananya?” tanya Firman membuyarkan lamunan Raka. Firman adalah tetangga kontrakan sekaligus teman kerjanya.
“Ya jadi lah.. Hari Jumat besok gue berangkat. Barusan gue udah ngajuin form cuti gue ke HRD. Udah, Lo gak usah sedih gitu ah. Gue cuti cuma 3 hari kok.. Rabu depan gue udah balik ke sini lagi.” sahut Raka.
“Ah, sialan Lo.. Siapa juga yang sedih? Justru gue malah senang gak perlu bangunin Lo buat sahur. Secara bangunin Lo tidur itu susahnya kayak mau nyembelih banteng! Wa ha ha ha..” canda Firman.
“Lebayyyyy!” balas Raka sambil berlalu meninggalkan Firman.yang masih sibuk menghabiskan makan siangnya di kantin pabrik.
"Gue yang sedih, Man. Sebenarnya bukan apa-apa. Gue lagi sumpek aja di sini. Tiap hari kebayang Nia terus. Rasanya kayak mimpi putus sama dia. Padahal baru kemarin gue nonton bareng dia. Sekarang mungkin dia lagi asyik nonton sama si Brengsek itu!" batin Raka.
*****
"Biasanya penuh terus lho, Neng. Abis lebaran baru ada lagi yang kosong. Soalnya kadang ada yang mudik, terus pulangnya gak balik lagi ke sini." terang Haji Salim, sang pemilik kontrakan.
"Oh gitu ya, Pak. Beruntung dong saya.." sahut Irma, yang baru saja tiba dari kampungnya di Cianjur.
"Kamunya juga kok pindahannya nanggung gini. Kenapa gak abis lebaran aja?" tanya Haji Salim penasaran.
"Oh, ehm.. Ituu.. Ya, kebetulan aja dapat panggilan kerjanya sekarang, Pak.." jawab Irma setengah gugup.
"Maaf nih, Pak.. Saya tinggal beres-beres dulu ya.." ujarnya lagi, sambil membongkar isi koper dan tas punggung yang dibawanya.
"Eh, iya, iya Neng. Silahkan. Aduh, maaf ya malah diajak ngobrol gini.. He he. Ya udah, nanti kalo ada apa-apa, bilang aja sama Bapak ya. Gak usah sungkan." pesan Haji Salim.
"Sebenarnya saya cuma cari tempat pelarian aja di sini, Pak. Daripada stres mikirin pertunangan yang gagal, lebih baik lanjutkan hidup dengan mencari aktivitas baru, di tempat yang baru. Siapa tahu hidup saya bisa lebih baik di sini, termasuk jodoh saya.." batin Irma.
*****
"Gagal mudik, Cuy. Pengajuan cuti gue ditolak. Perusahaan lagi sibuk-sibuknya nyiapin stok sebelum lebaran." keluh Raka setelah pulang dari pabrik.
"Gue tahu sebenarnya niat Lo mudik cuma buat pelarian aja, bukan buat silahturahmi. Iya kan? Makanya gak dikasih jalan deh. He he. Move on*, dong Bro. Move on*! Kayak di dunia cuma ada Nia aja.."
"Sok tau Lo! Udah ah, jangan bahas soal itu lagi. Ngomong-ngomong, nih kontrakan sebelah kayaknya udah ada yang ngisi ya? Kok terang dan rapi banget?" Raka berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Kata Haji Salim sih gitu. Tadi siang dia pindahannya."
"Hemm..."
480 kata
“Tulisan ini diikutsertakan dalam Giveaway Si Sulung”
*Munggahan : Istilah orang sunda yaitu proses penyambutan diri menjelang bulan Ramadhan secara ruhaniah iman dan taqwa kita meningkat. Biasanya dilakukan dengan berziarah ke makam keluarga dan kerabat, atau berkumpul bersama keluarga.
*Move on : Istilah anak muda yang artinya bangkit dari kegagalan (biasanya buat yang putus cinta)
Kamis, 04 Juli 2013
Prompt #19 : CITA CITA ADIT
![]() |
| sumber gambar |
"Bunda..."Adit yang masih memakai seragam sekolah lengkap dengan tas yang masih melekat di punggungnya itu memanggilku.
'Iya, Sayang. Ada apa?" sahutku yang sedang menurunkan bungkusan-bungkusan plastik berisi sayur-mayur daganganku yang tidak habis terjual itu dari sepeda.
"Adit boleh kan jadi tentara?" tanyanya kemudian. Aku langsung menoleh, lalu berjongkok di hadapan Adit dan mensejajarkan pandanganku dengan wajah mungilnya.
"Hemmm.. Jadi jagoan Bunda ini punya cita-cita jadi tentara rupanya. Hebat, anak Bunda." jawabku sambil tersenyum, lalu membelai lembut rambut ikalnya.
"Tentu boleh dong, Sayang.. Adit mau jadi apapun pasti bisa. Kan Adit anak yang pintar dan pemberani. Tapi syaratnya, Adit harus rajin belajar dan selalu dengarin nasehat Bunda, ya Sayang?" kataku lagi. Adit hanya mengangguk. Entahlah aku berkata demikian hanya sekedar untuk membesarkan hatinya saja atau berharap suatu saat nanti ada keajaiban yang bisa mewujudkan cita-cita besarnya tersebut. Jujur saja sebenarnya aku masih ragu dengan masa depan anak semata wayangku itu.
"Tapi tadi teman-teman sekolah mengejek Adit, Bunda. Mereka bilang Adit gak akan bisa jadi tentara atau jadi apapun yang lainnya." Adit berkata lagi, namun kali ini dengan nada yang sedikit kesal. Aku pun mulai tersulut. Apa yang kudengar dari Adit barusan serasa menohok jantungku. Sakitnya tidak jauh berbeda dengan apa yang kurasakan tujuh tahun silam, ketika Adit baru lahir. Ayahnya tidak mau mengakui Adit sebagai darah dagingnya sendiri dan memilih meninggalkan kami dalam keadaan yang sangat memprihatinkan. Depresi? Ya, tentu saja. Namun keberadaan Adit di sisiku telah menjadi nafas dalam hidupku. Senyuman dan gelak tawanya adalah rangkaian pondasi kokoh yang telah membangun benteng ketangguhanku. Aku bangkit dari segala keterpurukanku dan melanjutkan hidupku walau kadang masih berpikir bahwa dunia tidak pernah adil terhadap diriku.
"Lalu, apalagi yang mereka katakan padamu? Apa mereka mengganggumu, Nak?" tanyaku dengan khawatir. Kekhawatiran yang sama seperti saat Adit kudaftarkan masuk sekolah beberapa minggu yang lalu.
"Enggak kok, Bun. Adit langsung mengadukan mereka ke Bu Guru, lalu Bu Guru meminta mereka untuk meminta maaf sama Adit." Ah, malaikat kecilku.. Ternyata dia jauh lebih tangguh dari apa yang kubayangkan, bahkan melebihi ibunya sendiri.
Kalau aku terlalu protektif terhadap Adit, kurasa itu hal yang sangat wajar. Sebagai ibu sekaligus ayahnya, aku tak ingin ada siapapun yang menyakiti atau mengganggu satu-satunya harta yang paling berharga dalam hidupku itu. Cukup aku saja yang merasakan getirnya segala cemoohan, hinaan, dan perlakuan buruk lainnya dari orang-orang di sekitar yang memandang kami dengan sebelah mata.
Adit masih terlalu belia untuk mengalami cobaan hidup seberat itu. Aku ingin dia menjalani kehidupannya dengan normal seperti anak-anak lain seusianya. Dan aku akan sekuat tenaga melakukan apa saja yang bisa kuberikan agar Adit mampu mewujudkan harapan dan cita-citanya.
"Loh, Bunda kenapa menangis? Adit udah bikin Bunda sedih ya? Maafin Adit ya, Bunda.." suara Adit tiba-tiba menghentikan lamunanku. Tak terasa airmata perlahan meleleh dari kedua mataku. Buru-buru aku menghapusnya dengan tanganku dan berharap Adit tidak ikut-ikutan bersedih.
"Bunda menangis bukan karena lagi sedih kok, Nak. Justru Bunda bahagia karena memiliki anak yang baik dan menyenangkan seperti kamu. Kamu adalah penyemangat Bunda dan selalu mengisi hidup Bunda dengan berjuta keindahan. Terima kasih ya, Sayang." sahutku sambil mengecup kening dan kedua pipinya, lalu membantunya melepaskan tas dari punggungnya.
"Oya, Bun. Tadi kan di sekolah ada pelajaran menggambar. Adit dapat nilai paling tinggi loh di kelas. Kata Bu Guru, Adit berbakat jadi pelukis. Nih, Bunda lihat deh hasil gambar Adit." terang Adit bersemangat. Tak lama kemudian, diserahkannya sebuah buku gambar kecil dari dalam tasnya.
"Wah, indah sekali! Ini Adit sendiri yang buat?" ujarku takjub. Benar-benar mengagumkan. Gambar sebagus ini berasal dari goresan tangan seorang anak berusia tujuh tahun? Mungkin tak akan banyak yang percaya. Terlebih lagi jika orang-orang tahu bahwa pembuatnya menggunakan tangan yang tak ada jarinya.
#Tantangan Mingguan Monday Flash Fiction#
#Tantangan Mingguan Monday Flash Fiction#
Langganan:
Postingan (Atom)
